Sabtu di Ujung Senyap”
Langit Bandung belum sepenuhnya terang saat Aira melangkah keluar dari kamar kosnya. Embun masih menggantung di pucuk-pucuk daun, seakan enggan pergi. Jaket warna krim dan ransel lusuhnya seolah menjadi saksi bisu dari perjalanan panjang yang pernah ia tempuh—bukan hanya secara fisik, tapi juga batin.
Dulu, Aira adalah gadis yang menghindari tatapan mata. Ia berjalan menunduk, bicara dengan suara lirih, dan menyimpan malam-malam gelap dalam hatinya sendiri. Masa lalu itu seperti kabut pekat—tentang luka, ketakutan, dan rasa tak layak. Namun sejak ia mengenal kasih yang tak bersyarat dari Tuhan yang diam-diam mengetuk pintu hatinya saat semester satu, dunia menjadi sedikit lebih hangat. Sedikit demi sedikit, luka itu tak lagi berdarah. Ia sedang dipulihkan. Dalam diam, ia belajar menerima dirinya sendiri.
Dan Sabtu pagi seperti ini, adalah waktu yang Aira nanti-nantikan. Bukan karena kopi sachet murah yang mereka seduh ramai-ramai di beranda kosannya. Tapi karena ada mereka. Lima sahabat perempuan yang entah bagaimana, menjadi rumah bagi hatinya.
“Woy, Aira, firmanmu hari ini apaan? Jangan yang berat-berat deh, gue baru bangun,” ucap Tania sambil menyandarkan punggungnya di dinding, rambut panjangnya dikuncir asal. Tania adalah pesona itu sendiri. Cantik, cerdas, ceplas-ceplos. Tapi Aira tahu, di balik semua kegarangannya, Tania sering sembunyi kalau mati lampu.
Aira tersenyum lembut. “Nggak berat kok, Tan. Aku cuma pengen cerita. Tentang waktu Yesus bilang, ‘Akulah terang dunia’. Dulu aku mikir terang itu buat orang-orang baik aja. Tapi ternyata terang itu datang justru buat yang paling gelap... yang kayak aku dulu.”
Sunyi sejenak.
“Gila ya,” ujar Hana, si pendiam yang selalu tampak santai, tapi kalau ditanya tugas udah selesai, dia pasti bilang, “Udah dong, minggu lalu malah.” Sederhana, tapi tajam kalau sudah bicara.
“Berarti, nggak ada yang terlalu hancur untuk disembuhin,” lanjutnya.
“Yap,” ujar Aira pelan. “Dan kadang, kita harus lewat kehancuran itu dulu, supaya tahu siapa yang bisa nyembuhin.”
“Kayak hidupku, ya?” celetuk Dira, si cerewet yang kalau lagi sedih bisa ngilang berhari-hari. “Cerdas, iya. Tapi kadang gue muak banget sama diri gue sendiri. Nggak ngerti kenapa gue susah banget nerima bagian-bagian gue yang gelap. Padahal Tuhan udah maafin.”
“Karena kamu masih belajar ngasih maaf ke diri sendiri,” jawab Aira sambil menatap Dira. “Itu proses... dan prosesnya sah.”
“Eh jangan serius amat dong,” sela Lala, si anak paling cair dan nggak pernah nyerah meski ditolak magang tiga kali. “Kalau Tuhan aja sayang sama Aira yang dulu suram, berarti gue yang seceria bunga matahari pasti disayang lebih dong? Hahaha.”
“Bunga matahari dari mana, La? Dari halaman belakang kos kita yang kering itu?” goda Tania sambil melempar bantal.
“Eh udah udah. Gue suka deh sama sharing-nya Aira,” ujar Seli, yang kelihatan santuy tapi tiap kelas selalu duduk depan dan catatannya bisa dipakai referensi satu angkatan. “Gue ngerasa, ini kayak... apa ya, kita lagi disiramin gitu. Nggak digurui, tapi dikasih minum.”
Aira tersenyum kecil, matanya hangat.
“Aku cuma... pengen kita bisa saling jadi tempat pulang,” katanya pelan. “Aku nggak bisa banyak, tapi kalau dengan cerita-cerita ini bisa bikin kalian ngerasa nggak sendirian, aku bahagia.”
Mereka terdiam, tapi tidak ada yang canggung. Sunyi itu hangat. Seperti pelukan.
Di beranda kecil itu, enam hati disatukan oleh satu Sabtu yang sederhana. Bukan karena mereka sempurna, tapi karena mereka saling menerima dalam ketidaksempurnaan. Aira tak lagi sendirian. Dan dalam senyum-senyum kecil yang mereka bagi, terang itu menyala. Diam-diam, tapi pasti.
-----
Langit mulai beranjak biru muda saat obrolan mereka mengendap menjadi tawa-tawa kecil dan lirih-lirih doa dalam diam. Aroma kopi sachet yang semula menguar kini berubah menjadi jejak kenangan yang akan mereka bawa masing-masing—entah sampai kapan, tapi pasti akan diingat.
Aira menatap satu per satu sahabatnya. Ada lembut di wajah mereka, meski hidup tak selalu manis. Tapi justru dari kepahitan itu, mereka belajar menyeduh hari-hari dengan lebih bijak. Persahabatan ini bukan hadir dari kisah yang mudah—melainkan dari pecahan-pecahan kecil yang mereka pilih untuk satukan, perlahan, dalam ruang bernama percaya.
“Aku sering mikir,” ujar Aira lirih, matanya menatap pucuk langit. “Kalau kita nggak ketemu, mungkin aku masih jadi Aira yang takut hidup.”
“Kalau kita nggak ketemu,” sahut Hana, “mungkin aku nggak pernah ngerasain rasanya punya temen yang ngerti aku meski aku nggak bilang apa-apa.”
Tania menyandarkan kepala di bahu Aira, suaranya lebih pelan dari biasanya. “Kalau kita nggak ketemu, aku bakal terus berpura-pura kuat. Terus jadi cewek ‘sempurna’ padahal tiap malam ngerasa kosong.”
Dira menarik napas panjang, lalu menghembuskannya. “Kalau kita nggak ketemu... mungkin aku nggak pernah belajar bahwa jadi rapuh itu bukan dosa.”
“Kalian tahu nggak,” gumam Lala, kali ini tanpa tawa, “kadang aku mikir, Tuhan tuh baik banget. Dia beneran tahu aku butuh rumah yang bukan cuma tembok dan atap. Tapi yang kayak gini… yang punya pelukan dan pemahaman.”
Seli mengangguk. “Dan rumah itu, ternyata punya banyak bentuk. Salah satunya ya kalian. Tempat di mana aku bisa tumbuh, tanpa takut salah.”
Aira menatap mereka, matanya berkaca-kaca. “Aku pernah minta sama Tuhan... kirimkan orang-orang yang bisa nerima aku bahkan sebelum aku bisa nerima diriku sendiri. Dan ternyata... doa itu dikabulkan.”
Mereka diam. Tapi kali ini, diam yang penuh makna. Diam yang seperti embun—tak bersuara, tapi menyentuh.
Kemudian, pelan-pelan, Hana menyodorkan sebuah buku tulis yang sudah penuh coretan. “Aku nulis puisi kemarin malam. Nggak tahu kenapa... kayaknya ini buat kita.”
Ia membacakan, suaranya halus, mengalir:
“Kita bukan lukisan yang selesai dalam satu goresKita adalah kanvas-kanvas yang berani kotorTapi di tiap noda, ada ceritaDan di tiap cerita, ada cintaYang diam-diam menyembuhkan...”
Mereka tertegun.
Aira menggenggam tangan Hana, lalu satu per satu, tangan-tangan itu saling meraih. Tak ada janji. Hanya genggaman hangat, dan diam yang tahu: mereka adalah versi terbaik dari saling menemukan.
Langit Bandung kini lebih terang. Tapi bukan hanya langit. Hati mereka juga. Terang yang menyala bukan karena tak pernah padam, tapi karena terus dinyalakan—oleh kata, oleh tawa, oleh luka yang diterima tanpa syarat, dan oleh persahabatan yang tumbuh dari hal-hal yang tak terlihat.
Dan Aira tahu, di beranda kecil itulah, ia sedang pulang. Pulang pada tempat yang tak bernama, tapi penuh makna.
----
Setelah sarapan sederhana dan obrolan ramai itu berakhir, satu per satu sahabat Aira masuk ke kamar masing-masing. Tapi Aira tetap di beranda, masih duduk bersila di atas tikar tipis yang mulai menyerap embun. Angin pagi menyapu pelan, membawa aroma tanah dan sisa hujan semalam. Suasana hening lagi. Namun bukan sunyi yang kesepian—melainkan sunyi yang menenangkan.
Lalu Hana datang, membawa dua cangkir plastik berisi air hangat. Bukan teh, bukan kopi, hanya air. Tapi di tangan Hana, semua yang sederhana terasa punya makna.
“Boleh duduk?” tanyanya lirih, meski ia tahu jawabannya.
Aira tersenyum dan menepuk sisi tikar. “Selalu.”
Mereka duduk dalam diam. Lama. Seolah masing-masing sedang mengukur keheningan, menimbang kata, sebelum akhirnya Hana bicara.
“Aira…” suaranya pelan, hampir seperti gumaman. “Kamu pernah... bener-bener benci hidupmu sendiri?”
Aira menoleh. Ada sesuatu di mata Hana yang biasanya tenang: retakan kecil. Tapi justru dari situ, kejujuran muncul.
“Aku pernah,” jawab Aira, tanpa ragu. “Banget.”
Hana mengangguk, matanya menatap lurus ke depan. “Waktu SMA, tiap hari aku bangun dan mikir... kenapa aku harus ada? Rumahku kacau, papa nggak pernah pulang, mama dingin kayak lemari es. Kadang aku ngerasa cuma jadi beban listrik. Eksis tapi nggak penting.”
Aira tak memotong. Ia mendengarkan. Dengan hati, bukan hanya telinga.
“Aku pernah coba nyakitin diri,” lanjut Hana, suaranya gemetar tapi jujur. “Nggak sampai parah, tapi cukup buat ninggalin bekas. Bukan di kulit... tapi di cara aku lihat diriku sendiri. Aku ngerasa jijik banget waktu itu.”
Aira memejamkan mata sejenak, lalu membuka tangannya dan menggenggam milik Hana.
“Aku ngerti,” katanya lembut. “Aku juga pernah ngerasa hidupku... salah. Dilahirkan di keluarga yang nggak pernah saling bicara. Disalahkan atas hal-hal yang bahkan aku nggak ngerti. Aku pernah mikir, mungkin aku ini cuma salah alamat hidup.”
Hana tersenyum miris. “Lucu ya... dari luar, orang lihat kita kayak ‘anak baik-baik’. Padahal dalemnya porak poranda.”
“Tapi mungkin itu juga bentuk kasih Tuhan,” ujar Aira pelan. “Kita diizinkan pecah... supaya tahu siapa yang bisa nyusun kita ulang. Bukan orang tua, bukan pacar, bukan pujian—tapi Dia.”
Hana menarik napas panjang. “Dan mungkin... kita ketemu karena luka kita saling ngerti. Nggak saling sembuhin, tapi saling rawat.”
Aira mengangguk. “Iya. Karena kadang, cuma butuh satu orang buat bilang: ‘kamu nggak aneh. Aku juga ngerasain.’”
“Dan hari ini,” gumam Hana, menatap mata Aira, “aku ngerasa... hidupku yang jauh dari ideal itu ternyata... bisa punya arti.”
Mereka tersenyum. Tak ada air mata, tapi ada ketenangan yang perlahan mengalir seperti aliran sungai yang baru saja menemukan arah. Di atas langit Bandung yang mulai terang, dua hati saling menyentuh—bukan untuk memperbaiki, tapi untuk menemani.
Karena menerima hidup yang jauh dari kata ideal… adalah seni. Dan seni itu, butuh ruang. Ruang yang disebut: teman.
---
Beberapa hari setelah percakapan di beranda itu, Aira menemukan sebuah amplop cokelat tua di tumpukan buku usang di lemari kosnya. Ia tak langsung membukanya. Ia hanya menatapnya lama, seolah kertas lusuh itu membawa aroma masa lalu yang belum sempat diurai.
Malam itu hujan turun perlahan. Kota Bandung seperti menyimpan napasnya. Dan di dalam kamar remang-remang yang hanya diterangi lampu tidur redup, Aira mengetuk pintu kamar Hana.
Hana membuka pintu dengan sweater lusuh dan rambut dicepol asal. Tak banyak kata, hanya tatapan saling tahu.
“Aku... nemu surat lama. Dari diriku sendiri, waktu masih kelas dua SMA,” bisik Aira, suaranya nyaris tenggelam oleh rintik di luar jendela.
“Aku boleh dengerin?” tanya Hana, lembut.
Aira mengangguk.
Mereka duduk di bawah jendela, di antara kasur tipis dan bantal yang sudah lemas bentuknya. Aira membuka lipatan kertas yang mulai menguning. Tangannya gemetar.
Bandung, 22 Januari
Untuk diriku yang mungkin masih bertahan...
Aku nggak tahu apa aku masih hidup saat kamu baca ini. Tapi kalau iya, terima kasih. Terima kasih karena kamu nggak nyerah.
Hari ini aku nangis lagi. Mama teriak. Papa nggak pulang. Dan aku nyalain diriku sendiri, lagi. Aku pikir, mungkin aku anak gagal.
Tapi ada satu hal yang bikin aku nulis surat ini. Tadi pagi aku baca Yohanes 1:5, “Terang itu bercahaya di dalam kegelapan, dan kegelapan itu tidak menguasainya.” Aku nggak ngerti maksudnya... tapi aku ingin percaya.
Jadi, kalau kamu masih ada... tolong, jangan lupa: bahkan gelap pun punya akhir. Dan kamu... kamu berhak lihat matahari.
Aira terdiam. Surat itu berhenti di sana. Tangannya mengepal perlahan, menahan sesuatu yang sudah lama ingin dikeluarkan.
Hana menatapnya dalam diam, lalu berkata, “Itu... kamu yang dulu, ya?”
Aira mengangguk. “Dan aku benci dia dulu. Benci karena lemah. Karena nulis surat begini... kayak orang nyari iba.”
Hana menyentuh pundaknya. “Bukan iba, Ra. Itu suara seseorang yang masih percaya, walau remuk. Dan... kamu yang sekarang, adalah jawaban doanya.”
Aira menutup mata. Air matanya jatuh, tanpa isakan. “Aku kira aku nggak akan sampai sejauh ini.”
Hana menarik napas pelan, lalu berkata, “Kita nggak sampai ke tempat ini dengan sempurna. Tapi kita sampai. Dan kadang... itu udah mujizat.”
Aira memandang Hana. Ada semacam cahaya baru di matanya. Bukan cahaya gemerlap... tapi cahaya lembut, seperti lilin yang tak pernah padam meski diterpa angin.
“Terima kasih ya, Han...” bisiknya. “Buat duduk di sampingku malam ini.”
Hana tersenyum, lalu memeluk Aira pelan. Hangat, tak terburu-buru.
Di luar, hujan masih turun, tapi tidak lagi terasa dingin.
Dan di kamar kecil itu, dua jiwa duduk di antara luka dan pengharapan. Di titik paling jujur antara masa lalu dan masa depan.
Mereka tahu, hidup ini tidak akan selalu mudah. Tapi malam ini membuktikan: yang retak pun bisa bersinar. Dan surat lama yang nyaris terlupakan… bisa menjadi saksi bahwa bahkan dari reruntuhan, seseorang bisa memilih untuk tetap tumbuh.
----
Hana menarik napas panjang, mencoba menelan emosi yang nyaris pecah. Tapi sebelum keheningan berubah jadi tangis, suara notifikasi dari grup kelas mengalihkan perhatian mereka.
“Guys, kelas Manajemen Operasional pindah ke ruang 304 ya!”
“Cepet ke atas, Bu Indri udah datang.”
Aira dan Hana saling pandang—reaksi spontan khas mahasiswa yang tahu: “Wah, kalau telat, siap-siap disorot.”
Mereka langsung berdiri, menepuk-nepuk rok dan celana panjang mereka yang sedikit lembap karena duduk di atas tikar tadi. Cangkir plastik ditaruh rapi di dekat pintu beranda, dan tanpa banyak kata, mereka berlari kecil ke kamar masing-masing untuk mengambil laptop dan buku.
Beberapa menit kemudian, kelima sahabat itu sudah berkumpul di koridor lantai tiga gedung Fakultas Ekonomi. Nafas mereka masih belum stabil, tapi wajah mereka penuh semangat khas mahasiswa manajemen yang terbiasa multitasking antara tugas, organisasi, dan kadang—drama hati yang belum selesai.
“Tuh kan, gue udah bilang kelas kita pindah. Untung gue buka WA tadi,” ujar Seli sambil mengatur napas. “Mana Bu Indri suka nyuruh kita bahas studi kasus tanpa persiapan. Siapin mental ya, gaes.”
“Tenang,” jawab Tania, mengacungkan folder ring bendernya. “Gue udah siapin ringkasan materi minggu lalu. Kalo tiba-tiba ditunjuk, tinggal baca aja kayak pembaca berita. Haha.”
Dira langsung nyengir. “Lah, gue baru inget kita ada kelas. Gue pikir hari ini Sabtu santai.”
“Diraaa... ini kan Sabtu di Ujung Senyap, bukan Sabtu tanpa kelas,” celetuk Lala sambil mengedipkan mata ke Aira.
Aira tersenyum kecil. Kata-kata Lala membuatnya sadar, bahkan di tengah kesibukan dan tugas yang menggunung, ada momen-momen sunyi yang menyembuhkan. Dan persahabatan mereka adalah tempat ia bisa berhenti sejenak, bernafas, lalu melangkah lagi.
Tak lama kemudian, Bu Indri masuk dengan setumpuk makalah dan tatapan khas dosen yang tahu siapa yang benar-benar siap, dan siapa yang cuma modal doa.
“Selamat pagi. Hari ini kita bahas soal rantai pasok dan efisiensi logistik. Tapi sebelum itu... saya mau dua kelompok presentasi mendadak.”
Lima pasang mata langsung saling melirik. Dan seperti takdir yang lucu tapi menyebalkan, nama kelompok mereka disebut pertama.
Tania langsung berdiri, matanya menyipit ke arah Aira. “Kita bisa. Ayo, nyalain laptopmu. Kita tunjukin kalo anak-anak yang pernah retak justru paling ngerti cara menyusun ulang strategi.”
Aira mengangguk. Ia membuka presentasi sambil menarik napas dalam. Tapi bukan napas takut, melainkan napas percaya. Karena hari ini, ia tahu: ia tidak lagi sendiri. Bahkan di ruang kelas sekalipun, ada tangan-tangan yang siap menopang.
Dan ketika Aira mulai bicara, menjelaskan konsep value chain dengan tenang dan runtut, ada sorot bangga dari sahabat-sahabatnya. Di tengah data, grafik, dan strategi bisnis, tersembunyi cerita lain—tentang proses penyembuhan, tentang keberanian, dan tentang terang yang tumbuh diam-diam di dalam hati mereka.
Di balik layar LCD, bukan hanya analisis manajemen yang sedang dibagikan. Tapi juga sepotong hidup yang pernah gelap, dan kini perlahan menemukan cahaya. Di kelas itu, mereka bukan hanya mahasiswa. Tapi pembelajar kehidupan—yang tahu, setiap luka bisa jadi pelajaran paling berharga, jika diterima dengan hati yang terbuka.
Dan Aira tahu, sekali lagi, ia sedang pulang. Kali ini, ke ruang kelas—yang diam-diam jadi tempat pertumbuhan, bukan cuma untuk nilai, tapi juga untuk jiwa.
Komentar
Posting Komentar