Untukmu, yang kini terasa begitu jauh…

Aku ingin menyapamu—meski jarak tak lagi sekadar hitungan langkah. Kita berdekatan, namun seperti dipisahkan samudra bisu yang entah sejak kapan terbentang di antara kita.

Aku ingin berkata…

Maafkan aku, yang terlalu sibuk meratapi lukaku sendiri, hingga lupa bahwa kau pun mungkin sama—terluka, terdiam, dan tertatih dalam sunyi yang tak terucapkan.

Aku tak mampu membaca isyaratmu, tak cukup peka meraba gelisahmu.

Dan ketika kebenaran itu akhirnya terungkap melalui suara orang lain,

air mataku jatuh…

bukan karena luka lama,

tapi karena aku baru sadar: aku telah menjadi duri di tamanmu yang sudah sekarat.

Aku minta maaf,

karena bukan hanya gagal menghapus air matamu—

aku justru menambah jenis perih yang tak kau minta.

Maaf jika kehadiranku justru menjelma bayangan kecewa.

Maaf jika aku telah mengecewakan dengan segala kelemahanku.

Aku tahu, aku tak layak menuntut maaf,

namun di dalam hatiku, ada secuil harap:

bahwa kata “ampuni aku” ini bisa menjelma angin lembut yang mengetuk hatimu,

tanpa harus memaksamu membuka pintu.

Aku tahu badai telah lama berhembus di antara kita,

menerbangkan harapan, merobek halaman yang belum sempat ditulis.

Tapi aku percaya:

setelah badai, akan ada senja yang tenang,

akan ada pelukan langit pada bumi yang telah lelah menanti terang.

Tolong, jangan menyerah.

Tetaplah bertahan, meski dunia terasa sempit dan napasmu sesak.

Karena aku pun di sini, dalam sunyiku, tetap berharap:

agar suatu hari nanti, ketika badai itu mereda,

kita bisa saling tatap lagi—dalam damai

Dengan hati yang rapuh namun tulus,

aku sampaikan ini:

ampuni aku… dan semoga hatimu menemukan ruang untuk sembuh.



---

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Chiko & Chika (2)

Pain Changes People