Aku tidak tau ternyata menjadi dewasa itu dipenuhi banyak pertanyaan kapan ,yang kadang kita juga tidak bisa menjawabnya dengan pasti. Sosok teman hidup bukan jawaban atas setiap masalah atau kebingungan kita juga kan? Kadang kita juga harus menemukan jawaban sendiri terlebih dahulu, takut jika kerapuhan yang kita miliki hanya akan memberikan luka kepada orang lain, takut juga memproyeksikan luka yang harusya disembuhkan sendiri. Lagipula bertemu di waktu yang tidak tepat juga bukan berarti jawaban yag tepat, mungkin hanya akan memberikan siklus luka, siklus yang seharusnya tidak akan terjadi jika kita menemukan diri sendiri terlebih dahulu, tapi mungkin kita gak akan sampai menemukan diri sendiri, kadang ada banyak jalan yang tertutup yang kadang kita ga mengerti, rasa tersesat dan gak tau ini sebenarnya kemana , dan disanalah kita ditemukan oleh Pribadi yang mempunyai jawaban atas segala sesuatu nya. Tuhan.
Pribadi yang tidak menghakimi kondisi hidup kita, gak menuntut apa apa, sebuah kasih yang tulus dan yang memberikan kekuatan. Jika ditanya apakah tidak kuatir tentang usia dan sosok pasangan hidup? Sejujurnya ada juga waktu dimana aku juga kuatir akan hal itu, dan sering mendoakan nya juga di dalam doa doa ku, tapi kadang aku juga merenung :
Tuhan aku udah boleh ga ya
meminta hal ini dalam hidupku, sedangkan aku aja belum memiliki fondasi yang
jelas atas hidupku, masih mencari arah yang tepat, dan belum berdamai
dengan utuh dengan diriku sendiri. Dan masih mencari akar permasalahan dari
semua kekacauan sistem hidupku saat ini dan masih mencari jawaban atas semua
hal, atas semua petanyaan, tapi gak dipungkiri sebenarnya kadang ada juga kan rasa takut yang
menghampiri, tapi ya gitu huhuu.
Dan namanya bangunan
jika tidak ada fondasinya maka apa yang terbentuk ? hal abstrak dan
ketidakjelasan, yang hanya akan menambah luka luka baru saja dan kehancuran.
Aku jadi teringat tentang sesuatu yang pernah dibagikan di khotbah hampir setahun yang lalu:
Teman
hidup itu adalah rencana Allah jika sudah waktunya untuk menemukan itu
Dan cara menemukan nya
adalah mencintai Tuhan terlebih dahulu sebelum mencintai orang lain. Jika kita
tidak dapat mampu mencintai Tuhan yang sempurna bagaimana kita bisa mencintai
manusia yang tidak sempurna. Maka sebenarnya jawaban nya ada di dalam waktu dan
kehendak Nya, akan diberikan jika sudah waktunya. Mau kita nangis nangis
merengek-rengek jika belum waktunya, mungkin tidak akan diberi.
Analoginya mungkin
seperti ini ketika seorang anak datang ke dapur dan bicara ke ibunya : “”ibu,
aku ingin pisau.” Lalu sang ibu kebingungan melihat anak nya yang masih kecil
sudah meminta pisau. Ibunya yang sangat menyayangi anaknya itu tidak akan
mungkin memberikan pisau itu kepada anaknya sekalipun dia nangis sekencang apapun meminta kepada ibunya. Pasti sang ibu akan bertanya”pisau nya untuk apa emangnya? “Ternyata sang anak ingin mengupas
buah apel kesukaannya, dan tentu saja sang ibu yang akan membantu sang anak
mengupas buah apel tersebut dan memberikan nya , bukan memberikan pisau yang anak itu minta , karena itu sangat berbahaya jika diberikan dalam kondisi serapuh
itu, yang ada bukan menyelesaikan permasalahan sang anak, tapi hanya akan
melukai nya karena belum bisaa menggunakan pisau itu. Begitu juga
kita, hmm kadang kita berfikir teman hidup adalah solusi atas semua itu,
seperti pisau yang diminta oleh sang anak, tapi yang Tuhan lakukan adalah sama
seperti yang sang ibu lakukan , tidak memberi pisau, tapi membantu mengupaskan
buah itu agar bisa dimakan, artinya belum diberikan karena mungkin Tuhan ingin
kita menemukan jawaban dan solusinya bersama Tuhan karena sama seperti anak
kecil itu kita belum mampu menggunakan atau mengelola pisau itu, dan Tuhan
menjawab semua kebutuhan dengan cara Nya , bukan dengan cara kita agar kita
tidak terluka.
Pada akhirnya jika
sudah waktunya pasti akan diberikan.
Bukan dalam kondisi
masih mempertanyakan semua hal dan masih mencari jawaban tentang hidup dan
arah, tapi dalam kondisi yang utuh, bukan setengah, karena ada masanya Tuhan
mengajarkan kita menunggu untuk kebaikan kita sendiri
Komentar
Posting Komentar